Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah

TEMPO Interaktif. Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”

Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.

Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.” Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.

Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah. Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”

Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.

Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.

Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya. Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.

Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak?

Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.

Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.

Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.

Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.

Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladan sikap Rasulullah.

*)
Akhmad Sahal, Kader NU, kandidat PhD Universitas Pennsylvania

source: surga-mu.blogspot.com

Selasa, 29 Maret 2011

Nasionalisme Ahmadiyah

Puisi serupa juga ditulis oleh penyair lain dengan judul “Pita Hitam dalam Karangan Bunga”. Kalau tidak salah ingat bait-bait puisi adalah sebagai berikut: Tiga anak kecil / Dengan langkah malu-malu / Datang ke Salemba sore itu / Ini dari kami / Pita hitam dalam rangkaian bunga /untuk kakak yang ditembak mati /siang tadi

Hari Jumat 25 Februari 1966, ratusan penduduk kota metropolitan Jakarta mengantarkan jenazah Arief Rahman Hakim, Pahlawan Ampera, ke pemakaman Blok P Kebayoran Baru. Arief Rahman Hakim sendiri lahir pada tanggal 24 Februari 1943 di Padang. Kedua orang tuannya Haji Syair dan Hakimah, adalah orang Ahmadiyah yang telah lama tinggal di kota itu. Nama yang sebenarnya adalah Ataur Rahman, tetapi kemudian nama pertama itu digantinya sendiri dengan nama Arief. Adapun tambahan nama Hakim, ia ambil dari nama ibundanya yang bernama Hakimah

Pada th. 1958, ia tamat SMP dan pindah ke Jakarta untuk meneruskan pelajarannya di SMA dan kemudian melanjtkan pada fakultas kedokteran UI. Ketika di Jakarta Arief adalah seorang khudamul Ahmadiyah yang aktif. Dalam pergolakan yang dicetuskan mahasiswa untuk merobohkan rezim orde lama, Airef tidak ketinggala. Kamis, 24 Februari 1966, ia gugur tertembus peluru. Arief kemudian disebut sebagai Pahlawan Ampera.

Selain Arief Rahman Hakim, orang Ahmadiyah juga tercatat dalam berbagai perjuangan kemerdekaan RI. Harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta dan Harian “Merdeka” di Jakarta edisi Selasa Legi, 10 Desember 1947 memuat tulisan yang menguatkan hal ini. Dalam satu artikel yang berjudul “Memperhebat Penerangan Tentang Repoblik Gerakan Ahmadiyah Toeroet Membantoe”, dikatakan bahwa: “Betapa besarnja perhatian gerakan Ahmadijah tentang perdjoeangan kemerdekaan bangsa kita dapat diketahoei dari soerat-soerat kabar harian dan risalah-risalah dalam bahasa Ouerdue jang baroe-baroe ini diterima dari India. Dalam soerat-soerat kabar terseboet, didjoempai banjak sekali berita-berita dan karangan-karangan jang membentangkan sedjarah perdjoeangan kita. Soal-soal yang berhoeboengan dengan keadaan ekonomi dan politik Negara, biografi pemimpin-pemimpin kita, terdjamahan dari Oendang-Oendang Dasar Repoeblik dll”.

Selain itu juga dikatakan: “Selain itoe terjtantoem djoega beberapa pidato jang pandjang lebar, mengenai seroean dan andjoeran kepada pemimpin-pemimpin Negara Islam, soepaja mereka dengan serentak menjatakan sikapnja masing-masing oentoek mengakoei berdirinja pemerintahan Repoeblik Indonesia. Hal yang mengharoekan ialah soeatoe perintah oemeom dari Mirza Bashiruddin Mahmoed Ahmad, pemimpin gerakan Ahmadijah kepada pengikoet-pengikoetnja di seloeroeh doenia jang djoemlahnja 82 djoeta orang soepaja mereka selama boelan September dan Oktober jang baroe laloe ini, tiap-tiap hari Senin dan Kemis berpoesa dan memohonkan do’a kepada Allah SWT goena menolong bangsa Indoenesia dalam perdjoangannja, memberi semangat hidoep oentoek tetap bersatoe padoe dalam tjita-titanya, memberi ilham dan pikiran kepada pemimpinnja goena memadjoekan negaranja menempatkan roe’b (ketakoetan) di dalam hati moesoehnja serta tercapainja sekalian tjita-tjita bangsa ini”.

Tercatat pula dalam sejarah bahwa ketua Hoofdbestuur Jemaat Ahmadiyah pada masa orde lama adalah R. Muohammad Moehyidin. Beliau menjabat sebagai pegawai tinggi kementerian dalam negeri dan juga pejuang yang aktif turut serta mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta. Pada th. 1946 beliau diangkat sebagai sekretaris panitia perayaan kemerdekaan RI yang pertama. Rencananya, beliau akan memegang bendera merah putih di barisan depan. Akan tetapi delapan hari sebelum perayaan proklamasi dilaksanakan, beliau diculik Belanda dan tidak ketahuan rimbanya hingga kini.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur ) juga menyatakan ada saudaranya yang ikut Jemaat Ahmadiyah, yang ikut serta dalam perjuangan kmerdekaan RI. Saya lupa nama saudara Gus Dur tersebut. Para pembaca bisa cari mengenai data ini di internet, khusunya situs yang terkait dengan Gus Dur.

Mungkin karena jasa Ahmadiyah dalam perjuangan kemerdekaan RI inilah founding father bangsa ini, Ir. Soejkarnom bersikap simpatik terhadap Jemaat Ahmadiyah. Rasa simpati presiden pertama RI ini dibadikan dalam bukunya ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ itu juga (jilid I). Di halaman 389 Soekarno menulis: “Ya,……. Ahmadiyah tentu ada cacadnya, - dulu pernah saya terangkan di dalam suratkabar ‘Pemandangan’ apa sebabnya saya tidak mau masuk Ahmadiyah – tetapi satu hal adalah nyata sebagai batukarang yang menembus air laut: Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya. Buat jasa ini – cacad saya tidak bicarakan di sini – ia pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. Salut penghormatan dan terima kasih itu, marilah kita ucapkan kepadanya di sini dengan cara yang tulus dan ikhlas”

***

Dari data dan fakta di atas, kita bisa menilai seberapa besar nasionalisme Ahmadiyah. Dan saya kira pembaca yang cerdas akan segera membandingkannya dengan nasionalisme kelompok-kelompok Islam radikal yang getol menyuarakan pemberangusan terhadap Jemaat Ahmadiyah belakangan ini. Bukankah kelompok-kelompok ini jugalah yang menginginkan penerapan formalisasi syariah, menginginkan dasar Negara RI yang Pancasila dan beragam ini diganti dengan ‘negara Islam’ menurut versi mereka sndiri?. Dari sini jelas terlihat, siapa yang ikut mnyumbangkan jasanya bagi nasionalisme dan kebangkitan bangsa ini, dan siapa pula yang hendak membangkrutkannya?

Penulis adalah alumnus Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin, yang sekarang berkhidmah menjadi ketua PC Lakpesdam NU Cirebon, dan bekerja untuk kemanusiaan di Fahmina Institute.

Selasa, 15 Maret 2011

Syarat-syarat Bai'at masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah

Orang yang bai’at berjanji dengan hati yang jujur bahwa :

1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Al-Qur’an Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7. Meninggalkan takabur, sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.
8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hatanya, anak-ananknya, dan dari segala yang dicintainya.
9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini "Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud" semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Diterjemahkan dari "ISYTIHAR TAKMIL TABLIGH"

Source: ahmadiyya.or.id

Selasa, 08 Maret 2011

Kata Mereka: Ahmadiyah adalah Islam Sejati

Kata Mereka: Ahmadiyah adalah Islam Sejati

“Ahmadiyah adalah Islam sejati dan Islam yang hakiki ini hanya bisa berkembang melalui Ahmadiyah ini. Saya baru melihat Islam yang sebenarnya melalui Ahmadiyah, dan sebelum ini saya tidak pernah melihat ajaran seperti ini ditampilkan oleh kelompok-kelompok Islam lainnya. Dan apa yang mereka tampilkan adalah persaudaraan sejati, keikhlasan dan pengkhidmatan insaniyyat. Semuanya merupakan asas kehidupan bermasyarakat yang paling penting sekali. Orang-orang Ahmadiyah adalah perwujudan dari slogan Love for all hatred for none. Semua mazhab atau agama harus mengambil teladan dari mereka ini. (Menteri Luar Negeri dari Benin (Afrika) Dr H. Alexander (seorang Kristen)


***
Sekarang saya akan mengemukakan beberapa kesan-kesan yang dikemukakan oleh beberapa orang tamu yang belum masuk ke dalam Jamaah Ahmadiyah, namun mereka ikut serta di dalam Jalsah kita ini karena mereka mempunyai hubungan erat dengan Ahmadiyah, mereka telah mendapat kesempatan untuk menghadiri Jalsah ini. Mereka terkesan oleh keterampilan dan dedikasi para petugas Jalsah dan juga sangat terkesan oleh suasana Jalsah yang mengagumkan. Demikian juga orang-orang Ahmadi yang baru pertama kali menghadiri Jalsah di sini sehingga menimbulkan perubahan dan kesan baru dan segar di dalam kehidupan mereka.

Pertama-tama seorang President of Carel Marck Party di Swedia bernama Roger Caliph, beliau berpidato di dalam Jalsah mengatakan: "Di Swedia sering saya menghadiri berbagai macam pertemuan selain pertemuan yang diselenggarakan oleh partai saya sendiri juga, saya sering menghadiri jalsah-jalsah atau convention juga, banyak orang-orang asing yang hadir di dalamnya, namun suasana kecintaan dan persahabatan diantara berbagai bangsa yang hadir dan bermacam ragam pakaian para peserta, tidak pernah saya lihat seperti disini, dan khasnya setelah mereka mengikuti acara begitu panjang dan lama, ketika mereka keluar dari markee tidak nampak seorang pun yang merasa letih atau lelah, saya lihat mereka bertemu satu-sama lain disetiap kesempatan dengan rasa cinta dan persahabatan yang sangat mengesankan sehingga perasaan lelah dan letih sama sekali tidak mempengaruhi mereka. Orang Swedia ini seorang politisi berumur 75 tahun mengatakan bahwa selama tiga hari saya menyaksikan suasana pergaulan yang sangat akrab dan saling mencintai sesama yang lain dan saya lihat di Jalsah Gah, satu waktu mereka berdiri bersama-sama dan satu waktu mereka duduk kemudian pergi dari sana bersama-sama pula. Selama 75 tahun saya tidak pernah menyaksikan dan menikmati pertemuan seperti ini, begitu akrab dan terasa hangatnya saling hormat-menghormati satu-sama lain.”


Sesudah itu seorang Professor dari Kazakistan, telah menulis bahwa pertemuan Jema’at Ahmadiyah ini telah berjaya, sukses menampilkan keindahan dan ketinggian ajaran Islam dan mengajarkan saling menghormati terhadap sesama pandangan dan ajaran agama atau mazhab lain. Dan usaha semacam ini tidak diragukan lagi akan memperoleh kejayaan. Semoga Allah swt memberi kemajuan dan kejayaan kepada Jema’at Ahmadiyah. Kami pertama kali datang kesini dan tidak terbayangkan sedikit pun bahwa kami akan disambut dan dihormati seperti ini, dan kami alami selama tiga hari disini.

Seorang proffessor lagi dari Kazakistan juga yang menulis katanya, “Saya sangat terkesan oleh ajaran Ahmadiyah dan ini merupakan langkah pertama bagi saya. Dan saya sudah ketahui ajaran-ajaran Ahmadiyyah ini yang betul-betul menanamkan simpati insaniyyat, aman-damai, dan saling hormat-menghormati satu sama lain dan menaruh rasa hormat terhadap semua para Anbiya. Mereka siap mengemban tugas untuk menyampaikan amanat itu ke segenap penjuru dunia. Dengan menghadiri Jalsah Salanah ini nampaklah bahwa dalam pandangan Jema’at Ahmadiyah menghargai semua makhluq dan menaruh simpati kepada mereka adalah perkara yang penting sekali. Dari pembicaraan dengan para delegasi dari berbagai negara, saya mengetahui bahwa Jema’at Ahmadiyah banyak membantu negara-negara miskin di dunia yang sangat memerlukan bantuan dalam pembangunan sekolah, hospital, perpustakaan dan sarana-sarana umum lainnya. Dan bantuan seperti itu semua sangat penting sekali. Saya menyaksikan keindahan akhlaq mereka merupakan hal yang sangat istimewa sekali. Orang-orang Ahmadi yang datang dari berbagai negara untuk menghadiri Jalsah Salanah ini sangat memahmi ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan aktif mengamalkannya. Dan kami menyadari bahwa melayani dan mengkhidmati puluhan ribu orang tamu adalah pekerjaan yang sangat susah sekali. Sedangkan mereka yang melaksanakan tugas di dalam Jalsah Salanah ini hanya mengharapkan keridhaan dari Tuhan mereka.”

Demikianlah pandangan seorang tamu ini yang harus selalu diingat, bahwa semua para petugas Jalsah Salanah mengkhidmati para tamu semata-mata demi meraih keridhaan Allah swt. Selain itu seorang perempuan dari Kazakistan menyampaikan pernyataannya, “Perangai dan perilaku orang-orang yang melayani kami sebagai tamu demikian baiknya seakan-akan kami ini tamu-tamu yang telah lama mereka tunggu-tunggu kedatangan kami. Keadaan dan keperluan-keperluan kami sangat diperhatikan oleh mereka. Kami dengan hati ikhlas mendo’akan untuk kemajuan Jema’at Ahmadiyah ini dan semoga ajaran hakikinya berkembang dengan pesat hingga menembus kota-kota dan kampung-kampung di seluruh pelosok dunia.”

Seorang Menteri Luar Negeri dari Benin (Afrika) Dr H. Alexander (seorang Kristen), di waktu saya mengunjungi negaranya beliau ini sengaja datang menyambut saya, dan sejak itulah terjadi persahabatan yang akrab dengan beliau. Beliau menulis: “Ahmadiyah adalah Islam sejati dan Islam yang hakiki ini hanya bisa berkembang melalui Ahmadiyah ini. Saya baru melihat Islam yang sebenarnya melalui Ahmadiyah, dan sebelum ini saya tidak pernah melihat ajaran seperti ini ditampilkan oleh kelompok-kelompok Islam lainnya. Dan apa yang mereka tampilkan adalah persaudaraan sejati, keikhlasan dan pengkhidmatan insaniyyat. Semuanya merupakan asas kehidupan bermasyarakat yang paling penting sekali. Orang-orang Ahmadiyah adalah perwujudan dari slogan Love for all hatred for none. Semua mazhab atau agama harus mengambil teladan dari mereka ini. Mula-mula saya tidak yakin bahwa jumlah peserta Jalsah mencapai tigapuluh ribu atau lebih, tetapi setelah saya menyaksikan sendiri, keadaannya betul-betul sangat mengagumkan. Melayani puluhan ribu tamu, makan-minumnya, akomodasinya, dan segala jenis keperluan mereka bukan pekerjaan yang mudah. Mereka telah menunjukkan pengkhidmatan yang sangat luar biasa dengan air muka ceria, ramah-tamah dan sangat sopan-santun terhadap sesama seakan-akan mereka ini bukan makhluk biasa melainkan para malaikat telah turun dari langit dan tinggal di atas bumi ini. Dalam pengaturan pelayanan diikut sertakan anak-anak kecil juga yang nampaknya sudah dilatih dengan cermat sehingga mereka sangat lucu dan manis dalam mengkidmati dan melayani para tamu. Alangkah baiknya jika keadaan anak-anak seperti ini juga terdapat di negara kami Benin, sehingga manusia akan mengenang mereka sepanjang hayat. Saya menyaksikan suatu kelompok para pemuda Ahmadiyah yang sangat bersahabat dan giat menciptakan suasana aman damai, keadaan seperti ini tidak terdapat dinegara kami Benin. ”Beliau menulis lagi: “Pada detik-detik bai’at Internasional dan mendengar pidato penutupan dari Huzur, saya menyaksikan dunia telah berubah (padahal beliau seorang Kristen) dan saya berharap semoga Islam ditakirkan menjadi agama kami semua dan menjadi sarana hidayah bagi kami. Di waktu bai’at Internasional saya menyaksikan orang-orang menangis sambil menyapu air mata yang bercucuran membasahi muka mereka. Saya merasakan ada sesuatu sedang turun dari langit kepada mereka dan kami pun termasuk di antara mereka. Saya ingin cepat kembali ke negeri saya Benin dan memberi tahu kepada orang-orang di negeri saya bahwa hanya Ahmadiyah-lah yang bisa menjadi tempat bernaung bagi manusia untuk menjalani kehidupan aman damai didunia. Kehidupan yang aman tenteram tidak ada rasa takut di dalamnya dan dari segi lain Jema’at inilah yang bisa menjalin kita dengan Tuhan. Hamba Allah yang benar apabila berjalan menyampaikan amanat kebenaran kepada manusia pasti banyak manusia yang menentang dan merintanginya. Akan tetapi apabila saya sudah sampai kembali kenegeri saya Benin maka tidak akan ada masalah bagi Jema’at di sana. Akhirnya beliau berkata kepada saya: “Di Benin juga sudah ada anak Tuan.”

Dari Siera Leone (Afrika Timur) Chief Justice Abdullah Shiekh Fuhana menulis: “Jalsah Salanah yang sangat luar biasa ini akan selalu menjadi kenangan bagi kami. Banyak tamu datang dari berbagai negara yang berlaku seperti saudara kandung sendiri, sama-sama menunaikan sembahyang dan sama-sama berdo’a untuk kemajuan Islam.”

Seorang Gubernur dari Burkina Faso telah menulis: “Saya yang lemah ini telah datang menghadiri Jalsah ini sebagai wakil dari negeri saya dan saya menyatakan rasa penuh simpati kepada Pemimpin Jema’at Ahmadiyah. Di dalam Jalsah ini tidak ragu lagi saya telah menyaksikan berbagai macam bangsa di dunia dan telah duduk bersama-sama di dalam Jalsah ini. Semua sangat menghormati hak sesama insan. Di dalam Jalsah yang sedang berlangsung ini tidak ada sebarang perbedaan ras atau keturunan dan bangsa, semua menjadi satu. Motto Ahmadiyah “ Love for all hatred for none” sangat jelas sekali tengah mereka amalkan. Hendaknya bangsa-bangsa di seluruh dunia mengambil faedah dan mengambil contoh dari motto tersebut. Jema’at Ahmadiyah yang dipandang dengan hormat dan kebesaran diseluruh negeri kami, dalam tempo hanya dua puluh tahun saja Jema’at Ahmadiyah telah menawan hati rakyat Burkina Faso sampai ke pelosok-pelosok negeri. Kami telah mengenal betul Ahmadiyah ini mengkhidmati insaniyat tanpa pilih keturunan, kepercayaan, dan warna kulit. Jema’at Ahmadiyah bukan hanya menyediakan santapan ruhani belaka bahkan setiap keperluan jasmani manusia juga, dan dalam menyediakannya senantiasa berdiri dibaris paling depan. Karena Ahmadiyah telah banyak membantu menyediakan sarana pendidikan, sarana air minum, sarana kesehatan yang sangat baik sekali maka pada kesempatan Hari Kebangsaan Kepala Negara Burkina Faso telah menganugerahkan medali mas sebagai penghargaan kepada Jema’at Ahmadiyah.”

Sesungguhnya kita berkhidmat kepada siapa pun dan di mana pun bukan untuk memperoleh suatu penghargaan melainkan demi kepentingan kemanusiaan. Demikianlah perasaan hati para pengkhidmat dan para petugas Jalsah Salanah juga.

Setelah itu Mrs Ibrahim Jama Garba seorang Niger dari Miami mengatakan: “Saya sangat terkesan oleh motto “Love for all hatred for none” saya menyaksikan semua orang Ahmadi tua-muda besar-kecil mempunyai perilaku yang sama terhadap semua pendatang dari berbagai tempat di dunia yang terdiri dari berbagai jenis bangsa, agama dan warna kulit mereka. Mereka memperlihatkan kecintaan kepada semua. Kami merasa sangat terkesan oleh perhatian dan pelayanan mereka yang sangat baik kepada kami yang tidak mungkin bisa kami lupakan sepanjang hidup kami.

Seorang Ahmadi dari Amerika bernama Nuruddin Sahib mengatakan; Saya pertama kali datang menghadiri Jalsah disini, melihat perilaku sangat baik dan menyenangkan dari para petugas tidak kuasa menahan air mata bercucuran. Dan saya pun mulai menangis karena sangat terharu mengenang kepada kebaikan Tuhan yang luar biasa ini. Saya berjanji tidak lama lagi akan menulis sebuah buku tentang pengalaman yang saya saksikan dan peroleh di sini. Lidah saya tidak kuasa untuk menguraikan apa yang terkandung di dalam perasaan hati saya. Sebab mengungkapkan kemurahan, kasih sayang dan rahmat Tuhan merupakan pekerjaan yang sungguh sulit sekali. Saya ingin kembali ke Amerika setelah banyak meminum air ruhani, saya akan bertobat dari semua dosa dan akan saya tinggalkan semua keburukan saya, dan saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan amanat Hazrat Rasulullah saw dan Guhlam Sadiq beliau, Hazrat Masih Mau’ud a.s. kepada orang lain.”

Honorable Mrs Soad Rujuk, Muslimah Member of Parlement Belgium dan beliau berasal dari keturunan Arab Moroko, beliau telah memberi sambutan juga di dalam Jalsah ini, mengatakan; “Menghadiri Jalsah ini merupakan pengalaman pertama yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, saya duduk berdampingan dengan Hazrat Begum Sahibah dan beliau menjelaskan kepada saya tentang wafat Nabi Isa a.s., mengenai kemuliaan dan keagungan Hazrat Rasulullah saw dan mengenai kedatangan Hazrat Imam Mahdi Masih Mau’ud a.s dan tentang Jema’at Ahmadiyah, lebih kurang setengah jam saya mendengar penjelasan dari beliau. Sesudah itu saya dipertemukan dengan seorang muballigh dan saya duduk dekat beliau. Beliau memberi penjelasan demikian meresapnya di dalam pikiran saya sehingga hati dan pikiran saya sudah berobah total. Karena saya ingin mendapat penjelasan lebih lanjut tentang Imam Mahdi a.s. saya duduk sampai tengah malam mendengarkan penjelasan dari beliau. Setelah mengenal Ahmadiyah adalah Islam hakiki, saya telah mendapatkan kehidupan baru dari Allah swt. Melihat masa depan Ahmadiyah demikian cerah dan gamblang saya ingin terus mendapat penjelasan tentang Imam Mahdi dan Jema’at Ahmadiyah. Dan jika Tuhan menghendaki saya akan masuk ke dalam Jema’at Ahmadiyah. Dan bukan hanya saya saja yang akan masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah melainkan semua saudara saya, Ibu bapak saya dan semua teman dan kerabat yang dekat dengan saya akan saya bawa sama-sama masuk ke dalam Jema’at Ahmadiyah ini. Ketika saya mendengar pidato penutupan Huzur yang berkaitan dengan orang-orang Ahmadi Bangsa Arab, Huzur mengatakan: “Kalian bangunlah!! Ini kewajiban kalian semua untuk menyampaikan amanat Hazrat Imam Mahdi a.s. dan pergilah ke Mekkah dan panjatkanlah banyak-banyak do’a di sana!” Pada waktu itu saya sangat terharu dan menangis sambil mencucurkan air mata yang tak tertahankan, sebab saya juga seorang perempuan asal bangsa Arab dan sehari sebelumnya Hazrat Begum Sahibah telah menjelaskan kepada saya tentang kebenaran Hazrat Imam Mahdi a.s. dan perlunya seorang Imam Zaman yang sangat mengesankan hati saya. Sekali pun di banyak negara orang-orang Ahmadiyah sedang diperlakukan dengan zalim dan biadab, namun saya berjanji pada Jalsah tahun depan saya akan datang kembali ke sini dan tidak akan sendirian melainkan dengan membawa para anggauta parlemen juga.”

Jadi hal itu semua merupakan karunia Allah swt dan merupakan buah dari tabligh secara diam-diam atau secara perorangan yang tidak nampak kepada orang lain. Banyak orang terkesan dengan menyaksikan suasana Jalsah disini merupakan tabligh juga, ada juga khuddam yang bertabligh secara perorangan terhadap supir bis bangsa Iran menjelaskan tentang wafat Nabi Isa a.s. dan tentang kedatangan Hazrat Masih Mau’ud a.s. semua ini merupakan kesempatan tabligh yang sangat baik sebagai karunia Allah swt dan natijahnya akan timbul setelah beberapa waktu kemudian.

Seorang perempuan Ahmadi mengatakan saya pertama kali menghadiri Jalsah disini dan perasaan serta kesan yang menguasai pikiran saya tidak bisa dizahirkan dengan kata-kata. Menyaksikan keagungan Jalsah ini, keindahannya, pengaturannya dan menyaksikan perangai serta perilaku para petugas yang menjalankan duty mereka dengan semangat dedikasi, serentak timbul pertanyaan di dalam hati saya : “Siapakah di dunia ini yang bisa melakukan pekerjaan seperti ini, siapa yang bisa melayani tamu yang jumlahnya begitu banyak, siapa yang bisa menghimpun puluhan ribu hati manusia menjadi satu, jawabannya hanya satu adalah Tangan Tuhan dan Tangan Dialah Yang kuasa untuk menanamkan kecintaan di dalam hati manusia. Dan Dialah Yang memberi kemudahan di dalam semua pekerjaan. Duduk di tengah-tengah para peserta Jalsah keadaan diri terasa berobah secara total dan timbul kesan yang sangat dalam dan kuat di dalam hati saya yang membangkitkan semangat iman. Badan saya terasa gemetar dan air mata pun tak tertahan mengalir membasahi muka saya. Rahmat Tuhan nampak turun di semua ufuk (penjuru), hati runduk merebah dan sujud di haribaan Tuhan Maha Kuasa, sambil memohon ampun dari segala dosa yang pernah saya lakukan, sehingga saya merasa bahwa jarak perjalanan menuju akhirat sudah terasa sangat dekat sekali.”

Seorang perempuan Ahmadi bernama Riza Begum Sahibah, menulis: “Pada acara akhir Jalsah Salanah, perasaan hati saya mengatakan, apabila saya sudah kembali ke Mesir, saya akan berkata sambil berteriak kepada orang-orang di sana: Hai ummat Rasulullah (saw) bangunlah dari tidur kalian, sekarang Imam Mahdi kalian sudah datang dan tanda-tanda akhir zaman sudah zahir semuanya dan cepatlah bangkit untuk menyelidiki kebenarannya.”

Seorang perempuan bernama Azizah Amano Ode Sahibah mengatakan, saya baru pertama kali menghadiri Jalsah ini, saya sangat terkesan dan sangat merasa heran menyaksikan bagaimana mengatur tamu begitu banyak dalam satu waktu dilayani dan dikhidmati dengan baik dan teratur sekali.”

Muflih Audah berkata: “Liputan Jalsah Salanah sangat baik sekali dan saya sangat terkesan oleh pelayanan dan kebaikan dari para petugas Jalsah, sungguh menakjubkan. Semua pertanyaan yang timbul di dalam benak saya sepanjang tahun telah terjawab semua setelah saya mengikuti semua acara Jalsah Salanah ini.”

Ibrahim Kazak Sahib berkata: “Saya merasa Jalsah ini telah berlangsung sangat istimewa sekali bagi Bangsa-bangsa Arab, sehingga semua kebohongan dan tipu daya mereka akan zahir dan akhirnya insya Allah orang-orang Arab secara berbondong-bondong akan menggabungkan diri dengan Jema’at Ahmadiyah laksana sebuah bendungan telah terbongkar dan runtuh. Kecongkakan dan kesombongan para penentang akan dipatahkan. Dan tidak lama lagi masanya bendera Imam Mahdi akan berkibar dengan megah di seluruh dataran negeri Arab. Dan ilham dari Allah swt kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. ini : ??????????? ????????? ????????? ?? ????????? ???????? Yusolluna ‘alaihal arab wa abdalusy syam Mereka akan menyampaikan selawat kepadanya dan juga para tokoh agama negeri Syam. akan segera sempurna dengan cemerlang dan semarak.

Banyak sekali surat-surat khasnya dari negara-negara Arab telah diterima yang isinya menyampaikan ucapan tahniyah atau selamat dan mubarak atas berlangsungnya Jalsah Salanah dengan penuh suksess, sehingga zahir sekali bahwa karunia Allah swt telah turun secara khas di atas Jalsah Salanah ini. Disini telah berhimpun berbagai jenis bangsa dan para hamba sahaya Hazrat Masih dan Mahdi a.s. sibuk berusaha demi meningkatkan keruhanian mereka. Dan mereka sedang berderap maju dengan semangat keruhanian baru. Pesan dan kesan serta ucapan selamat dan mubarak berdatangan dari setiap penjuru dunia sangat banyak sekali jumlahnya, sangat menggugah perasaan dan mengharukan sehingga tidak mungkin bisa dizahirkan secara lisan. Sesuai dengan janji Allah swt kecintaan dan cinta kasih terhadap Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah ditanamkan di dalam hati para pengikut beliau a.s. yang pada zaman sekarang ini tidak ada duanya di seluruh dunia. Dan selain kepada beliau mereka sangat mencintai Khilafat juga. Semoga Allah swt meningkatkan terus keikhlasan dan kecintaan ini di dalam hati kita semua. Dan semoga rasa syukur terhadap nikmat-nikmt Allah swt lebih nampak dari masa sebelumnya. Dan semoga pusat kecintaan kita semua terletak pada Zat Allah swt. Untuk itu semua semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita, Amin !!

sumber: tamanjati.blogspot.com

Rabu, 31 Maret 2010

Ahmadiyah akan Mengadakan Seminar tentang Kehidupan Rosulullah saw.

Jamaah Ahmadiyah New York mengungumumkan rencana mengadakan seminar tentang peri kehidupan Nabi Suci Islam, Rasulullah saw. Rencana seminar akan dilaksanakan di masjid Ahmadiyah new york Baiut-uz Zafar, yang berlokasi di 188-15 McLaughlin Ave, Holloswood, New York. Acara yang dijadwalkan pada minggu, 7 Maret 2010, akan menghadirkan pembicara dari berbagai organisasi-organisasi Islam dan Nasioanal.

Para pembicara akan menyoroti kehidupan Rasulullah saw dari berbagai sudut pandang, termasuk teladan beliau sebagai Quran yang hidup, the Preacher of a Green Planet, keunggulan moral, Kesuksesan sebagai manusia, Pelajaran dari pidato haji wada', dan kedudukannya sebagai Penyeru sempurna.


orang-orang yang berpartisipasi dalam acara tersebut adalah Dr Kareem Sharif, Sekretaris pendidikan Ahmadiyah New York, NY Chapter; Imam Benjamin Bilalof sign of Life; Imam Tahir Mustafa Kukaj dari Albanian Islamic cultural center; Al Hajj Syeih TA Bashir, dll.

Amir lokal ahmadiyah New York akan mendiskusikan rencana untuk merekam acara tersebut untuk mempromosikan niat baik Islam dan Pendiri Sucinya.

Acara tersebut akan dimoderasi oleh Rabbi ghuam dari Ahmadiyah, yang menjabat sebagai sekretaris dialog antar agama dan masyarakat.

Tentang Jamaah Ahmadiyah:

Komunitas Muslim Ahmadiyah adalah gerakan yang dinamis, reformis dan gerakan Internasional Islam yang tumbuh dengan cepat. Didirikan pada tahun 1889, Ahmadiyah telah meliputi lebih dari 190 negara dengan keanggotaan melebihi puluhan juta.Komunitas Muslim Ahmadiyah Amerika, didirikan pada tahun 1921, adalah oganisasi Islam pertama yang didirikan di Amerika.

Sumber: 1ahmadiyah.blogspot.com

Seminar tentang Konsep Tuhan Di Buffalo

Jamaah Ahmadiyah wilayah Buffalo hari ini (5 Februari 2010) mengumumkan bahwa seminar lintas agama ke-14 akan diselenggarakan pada 28 februari 2010.

Acara yang berjudul "concept of God in my Faith" akan diselenggarakan di Millenium Hotel, terletak di 2040 Walden Avenue di cheektowaga, New York (seberang Mall Walden Galleria)


"Apakah kita semua menyembah Tuhan yang sama atau Tuhan seperti apa yang dijelaskan dari keyakinan kita,' adalah jenis topik yang akan dijelaskan oleh para undangan dari sudut pandang tertentu.

Para narasumber akan berbicara tentang konsep Tuhan yang ditawarkan oleh keimanan masing-masing, dan menjelaskan peran Tuhan dalam individu, sosial dan aspek global umat manusia. sekali lagi, penjelasan harus berdasarkan kitab suci agama dan tradisi agama masing-masing.

Rencananya beberapa pemuka dari berbagai agama akan berbicara pada acara tersebut. setiap pembicara akan dialokasikan waktu selama 15 menit untuk membuat presentasi dan pidato dan dilanjutkan sesi tanya jawab.

Para narasumber seperti yang dirilis kepada Ahmadiyya Times meliputi Dr. Vijayaghavan chakravanrthy mewakili agama Hindu, Ms Agnes Williams mewakili Kepercayaan penduduk asli Amerika. Rabi Drorah Setel mewakili Judaism, Rev. Dr. Arthur L. Davis mewakili Kristen dan Imam Yahya Luqman mewakili Islam.

Acara ini terbuka untuk umum dan semua peserta bebas untuk meneruskan undangan kepada orang lain yang mungkin juga berminat.

Sumber: 1ahmadiyah.blogspot.com

Dakwah Ahmadiyah Di Eropa

Masih banyak yang keliru beranggapan, bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah golongan diluar Islam, sesat dan menyesatkan. Anggapan ini sama sekali jauh dari kebenaran, dan hanya didasarkan pada persangkaan dan dugaan. Apa yang sedang terus dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah, sejak didirikan pada tahun 1889 hingga sekarang, justru membela dan mengagungkan agama Islam.Tulisan berikut ini menerangkan hanya sebagian dari sekian banyak kiprah, yang telah dan sedang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah di seluruh penjuru dunia, untuk keagungan dan kejayaan Agama Islam.
Sejak runtuhnya kejayaan Islam di negara Spanyol, selama beratus-ratus tahun lamanya, daratan Eropa tidak pernah lagi tersentuh oleh dakwah Islam. Setidaknya hingga pada masa perang dunia kedua, tidak pernah ada lagi orang Islam yang pernah mencoba membuka dakwah di daratan Eropa.

Untuk meneruskan missi dakwah kenabian Nabi Muhammad Saw itulah, Jemaat Ahmadiyah melakukan dakwah Islam kepada segenap bangsa Eropa di berbagai negara di Benua Eropa. Dimulai pada tahun 1913, jauh sebelum masa perang dunia kedua, Jemaat Ahmadiyah telah mengirimkan muballighnya yang pertama ke Eropa, yaitu Choudry Fatah Muhammad Sayyal. Choudry Fatah Muhammad Sayyal, mendarat di kota London, dan memperkenalkan agama Islam kepada Bangsa Eropa melalui masyarakat kota London.

Da’wah Choudry Fatah Muhammad Sayyal di kota London, berhasil membuka jalan bagi berdirinya missi Agama Islam di daratan Eropa untuk kemudian tersebarnya dakwah kenabian Nabi Muhammad Saw kepada bangsa-bangsa Eropa lainnya.

Berkat keberhasilan Da’wah Choudry Fatah Muhammad Sayyal, pada tanggal 19 Oktober 1924, Imam Jemaat Ahmadiyah ketika itu, yaitu Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, meletakkan batu pondasi pertama pembangunan Masjid Alfadhal, di daerah Southfield, London.

Dan kemudian pada tanggal 3 Oktober 1926, masjid Al-Fadhal ini dibuka dan diresmikan. Masjid Al-Fadhal ini bukan hanya merupakan masjid Islam pertama di negara Inggris, tetapi juga merupakan masjid Islam pertama yang pernah dibangun di daratan Eropa, sejak masa runtuhnya kejayaan Islam di Spanyol. Dari sekian banyak negara di Eropa, dakwah Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah.di negara Inggris dan Jerman adalah yang paling pesat perkembangan

Di negara Inggris, setiap tahun progres dakwahnya memperoleh kemajuan demi kemajuan. Jemaat Ahmadiyah berhasil mendirikan masjid-masjid dengan berbagai bentuk dan ukuran di berbagai sudut kota di wilayah Inggris Raya. Sebagian masjid yang telah selesai dibangun, segera diresmikan dengan mengundang para pejabat dan anggota masyarakat setempat, agar mereka dapat mengenal dan mengetahui agama Islam secara lebih dekat. Dan setelah diresmikan masjid pun segera digunakan baik untuk kegiatan beribadah maupun untuk kegiatan berdakwah. Sebagian masjid lainnya ada yang masih dalam proses pembangunan, dan sebagian lainnya lagi masih dalam perencanaan.


Pada tahun 2003, Jemaat Ahmadiyah bahkan berhasil membangun masjid Islam terbesar dan termegah di Eropa Barat, yaitu masjid Baitul Futuh, yang dibangun oleh Jemaat Ahmadiyah di kota Morden, London. Peletakan batu pondasi pertama masjid Baitul Futuh ini dilakukan pada tanggal 19 Oktober 1999, oleh Imam Jamaat Ahmadiyah yang ke IV yaitu Hadhrat Mirza Tahir Ahmad.

Masjid Baitul Futuh ini memiliki ruang shalat baik untuk jamaah pria maupun wanita yang sangat luas yang mampu menampung hingga 10 ribu jamaah. Ruang shalatnya yang luas di desain sedemikian rupa sehingga para jamaah benar-benar merasa nyaman dan khusuk beribadah.

Sebelumnya, komplek dan bangunan ini merupakan sebuah pabrik susu yang dibeli oleh Jemaat Ahmadiyah dengan harga 2,2 juta poundsterling, atau sekitar 32 miliar rupiah, dengan luas komplek 5,2 hektar. Bangunan ini kemudian dirombak total menjadi sebuah masjid yang megah. Total biaya pembangunan masjidnya mencapai 5 juta poundsterling, atau sekitar 72 miliar lebih, yang dikumpulkan dari hasil sumbangan dan iuran para anggota Jemaat Ahmadiyah di seluruh Inggris.

Di ruang shalat utama untuk kaum pria, selain ada mimbar untuk Imam dan Khatib, ruang utama untuk shalat ini juga dilengkapi dengan beberapa panggung khusus untuk camera, untuk menyiarkan acara khutbah Jumat secara live ke seluruh penjuru dunia melalui Televisi Muslim Ahmadiyah International. Ruang shalat untuk kaum pria dibangun dua lantai. Lantai kedua, diperuntukkan terutama bagi pria yang sudah lanjut usia yang sudah tidak dapat melakukan sahalat dengan cara berdiri. Oleh karena itu untuk menuju ke lantai dua ini, selain disediakan tangga biasa, disediakan juga tangga lift untuk mereka yang sudah lanjut usia dan di ruang shalat manula ini disediakan kursi-kursi untukmereka yang sudah tidak dapat melakukan shalat dengan cara berdiri karena sudah renta.

Di bagian lain, yaitu dilantai dasar masjid ini, juga dibangun ruang lain yang sangat luas, yaitu ruang shalat khusus untuk kaum wanita. Ukuran ruangannya, tidak berbeda dengan ukuran ruangan shalat untuk kaum pria. Di ruang shalat kaum wanita ini, disediakan juga ruangan shalat khusus yang kedap suara. Ruang shalat kedap suara ini diperuntukan khusus untuk kaum wanita yang membawa anak-anak balita. Ruang shalat ini sengaja didesain kedap suara agar suara tangis balita tidak mengganggu jamaah yang lainnya.

Masjid Baitul Futuh ini juga dilengkapi dengan mesin pengatur suhu ruangan. Pada musim panas, jamaah yang beribadah di masjid ini tetap dapat beribadah dengan suhu yang sejuk dan nyaman. Demikian sebaliknya pada musim dingin, mesin pengatur suhu ini dapat memberikan suhu yang hangat ke seluruh ruangan shalat sehingga para Jamaah dapat tetap nyaman beribadah. Suhu yang diproduksi oleh mesin ini disalurkan melalui tiang-tiang yang ada di seluruh sudut ruangan masjid, tiang-tiang di masjid Baitul Futuh ini didisain sedemikian rupa, yaitu dipasang pipa dan pentilasi khusus sehingga tiang tiang ini dapat memancarkan suhu udara sesuai dengan yang dibutuhkan.

Masjid Baitul Futuh ini juga dilengkapi dengan toilet dan tempat wudhu yang modern. Lampu-lampu di ruang wudhu misalanya, adalah lampu-lampu magnetic otomatis. Lampu secara otomatis akan segera menyala pada saat ada jamaah masuk ke ruang wudhu atau toilet. Dan lampu akan mati dengan sendirinya jika dalam ruang wudhu sama sekali sudah tidak ada jamaah yang menggunakan.

Demikian juga kran-kran air untuk berwudhu, di masjid Baitul Futuh ini digunakan kran-kran air otomatis. Kran secara otomatis mengeluarkan air tanpa harus memutar atau menekan tombol apapun. Air akan dengan sendirinya mengucur keluar pada saat tangan para jamaah berada didekat kran, dan air akan berhenti sendiri pada saat kran selesai digunakan.

Selain memiliki ruangan-ruangan yang luas untuk beribadah, Masjid Baitul Futuh ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang kegiatan dakwah. Diantaranya ada ruang perkantoran untuk mengurus berbagai keperluan dakwah yang gedungnya dibangun di bagian lain Masjid Baitul Futuh. Selain ada kantor tabligh, atau kantor untuk merancang berbagai kegiatan dakwah, masjid Baitul Futuh ini juga memiliki ruangan-ruangan untuk kantor lainnya.

Ada kantor keuangan, kantor untuk mengelola dan mengatur keuangan organisasi baik uang yang masuk dari iuran pengorbanan dan infak dari para anggota Jemaat Ahmadiyah di Inggris, maupun uang yang keluar untuk berbagai kegiatan organisasi dan kegiatan dakwah. Dan juga ada ruang administrasi, untuk mengatur berbagai urusan administrasi organisasi. Kantor ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas kebutuhan dan perlengkapan kantor yang modern. Ruang kantor administrasi ini juga dilengkapi dengan ruang tamu, baik untuk tamu intern maupun tamu lain yang berkunjung ke kantor ini.

Kantor lainnya yang tersedia di masjid Baitul Futuh ini ialah kantor khusus untuk Panitia tetap Jalsa Salanah, atau Panitia tetap acara pertemuan tahunan International yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Kantor inilah yang mengatur dan merancang suksesnya kegiatan Jalsah atau pertemuan tahunan International, mereka mengatur tamu-tamu yang datang dari berbagai negara diseluruh dunia, dan mengundang pejabat-pejabat penting pemerintahan dari berbagai negara baik muslim maupun non muslim, sehingga pertemuan tahunan itu juga menjadi bagian lain dari kegiatan dakwah Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah kepada masyarakat yang non muslim.

Kantor lainnya yang tersedia di masjid Baitul Futuh ini adalah kantor khusus untuk Lajnah, atau Badan Organisasi Wanita Ahmadiyah, dan Kentor Khudamul Ahmadiyah, atau Badan Organisasi Pemuda Ahmadiyah Inggris. Kantor Badan Pemuda Ahmadiyah Inggris juga memiliki fasilitas kantor yang tidak kalah lengkapnya dengan kantor-kantor lainnya yang ada di masjid ini.

Kantor di masjid Baitul Futuh ini juga memiliki ruangan khusus untuk rapat pengurus Jemaat Ahmadiyah Inggris. Di ruangan rapat ini secara rutin dibahas dan dirancang berbagai permasalahan organisasi termasuk rancangan-rancangan rencana kegiatan dakwah di negara Inggris.

Selain memiliki ruang khusus untuk percetakan dan penerbitan media-media dakwah, Masjid Baitul Futuh ini juga dilengkapi dengan sarana studio control siaran televisi, untuk menyiarkan berbagai kegiatan dakwah yang berlangsung di masjid ini dengan siaran menjangkau ke seluruh penjuru dunia. Studio siaran Televisi di Masjid Baitul Futuh ini memiliki berbagai fasilitas penunjang siaran. Ada ruangan studio yang luas, ruangan penerjemahan siaran ke dalam berbagai bahasa, ruangan untuk editing, ruangan grafis dan animasi, serta ruang kontrol siaran dengan peralatan siaran standar professional. Dari studio inilah, berbagai acara siaran dakwah, disiarkan ke seluruh dunia dengan menggunakan lebih dari 7 satelit digital, dengan nama siaran MTA International, atau Televisi Muslim Ahmadiyah International.

Untuk keperluan dakwah, masjid ini juga memiliki ruangan lain yang sangat luas, yaitu ruang auditorium khusus untuk kegiatan dakwah. Ruang yang diberi nama Tahir Hall ini bisa menampung ratusan orang dan sengaja dibangun berdampingan dengan ruang shalat masjid ini untuk keperluan dakwah. Sekarang diruangan ini secara rutin diselenggarakan berbagai kegiatan dakwah kepada masyarakat Inggris. Diantaranya kegiatan seminar, simposium dan kegiatan-kegiatan dakwah lainnya dengan mengundang berbagai kalangan non muslim, baik para pejabat penting di Inggris, maupun masyarakat biasa lainnya. Melalui acara-acara dakwah seperti inilah, ajaran Islam, dan ajaran Nabi Muhammad Saw diperkenalkan kepada masyarakat Inggris.

Sekarang, masjid Baitul Futuh ini telah menjadi salah satu bangunan penting yang dihormati oleh masyarakat Morden, tidak saja hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat 5 waktu dan shalat Jumaat saja, masjid Baitul Futuh ini juga telah menjadi pusat kajian Islam bagi masyarakat Eropa, dan pusat untuk kegiatan-kegiatan dialog antar agama.

Da’wah Islam oleh Jemaat Ahmadiyah di Inggris dilancarakan dengan berbagai cara. Salah seorang muballigh Ahmadiyah yang bertugas di Croydon yaitu Rana Mashood Ahmad menerangkan bahwa ia dan beberapa pengurus Ahmadiyah secara rutin melakukan kunjungan kepada teman dan kenalan yang non-muslim dan membina pertemanan dengan mereka secara baik sehingga perlahan-lahan mereka dapat mengetahui ajaran Islam dengan tanpa penuh curiga. Kunjungan juga dilakukan ke gereja-gereja dan sekolah-sekolah, untuk menerangkan Islam yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Muballigh Rana Mashood juga menerangkan bahwa Ahmadiyah juga kerap menggelar acara seminar, sympoisum bersama tokoh-tokoh dari berbagai agama lainnya. Menurut Rana, disatu sisi banyak sekali kritikan yang tajam terhadap Islam terkait peristiwa terorisme diberbagai belahan dunia yang mengatasnamakan Islam, tetapi disisi lain hal itu justru menciptakan peluang dan kesempatan untuk berdakwah, karena banyak teman, shabat dan kenalan yang non muslim, baik secara individu maupun melalui lembaga-lembaga dimana mereka bekerja atau berkecimpung seperti sekolah-sekolah, yang meminta keterangan tentang Islam yang sebenarnya.

Da’wah Islam di wilayah Inggris Raya yang dilancarkan oleh Jemaat Ahmadiyah tidak hanya diarahkan kepada masyarakat biasa di Inggris, akan tetapi juga kepada masayarakat Inggris lainnya dari berbagai kalangan, baik dari kalangan bisnisman, para wakil rakyat di parlemen, hingga kepada para pejabat pemerintahan baik pemerintahan tingkat lokal maupun level nasional. Banyak kalangan termasuk dari kalangan pejabat di parlemen maupun di pemerintahan Inggris, mendapatkan kesan positif tentang Ajaran Islam yang diperkenalkan oleh Jemaat Ahmadiyah kepada mereka.

Dari sekian banyak pejabat yang telah mendapatkan penerangan tentang Islam dari Jemaat Ahmadiyah, banyak dari antara mereka yang kemudian masuk kedalam agama Islam melalui Jemaat Ahmadiyah. Salah satunya adalah Tuan David Galagan, Deputy Mayor Wilayah London Borough. Ia sangat terkesan oleh Islam dan kemudian masuk kedalam pangkuan Islam melalui Jemaat Ahmadiyah.


Sementara itu di negara Jerman, progres da’wah Islam oleh Jemaat Ahmadiyah juga berkembang sangat pesat. Masjid-masjid Islam telah berhasil dibangun dan didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah hampir diseluruh kota di Jerman. Bahkan pada tahun 2008 yang lalu, Jemaat Ahmadiyah telah berhasil meresmikan masjid Islam pertama di kota Berlin, sebuah kota Komunis di Jerman yang mayoritas masyarakatnya sangat menaruh antipati kepada Islam.

Oleh karena itu Pembangunan masjid Islam di kota Berlin ini, sangat mengejutkan masyarakat setempat. Sekelompok masyarakat Berlin bahkan melakukan aksi protes untuk menolak adanya pembangunan masjid di Berlin ini. Namun demikian, pemerintah dan masyarakat kota Berlin kemudian memberikan izin kepada Jemaat Ahmadiyah untuk meneruskan pendirian masjid ini, setelah mereka mendengarkan penjelasan dari Ahmadiyah tentang agama Islam yang sebenarnya yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Ini membuktikan bahwa Islam yang diperkenalkan oleh Jemaat Ahmadiyah kepada masyarakat Jerman, adalah agama Islam yang sesungguhnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, yaitu agama yang penuh dengan cinta kasih dan kedamaian, tanpa menimbulkan kekhawatiran bagi siapa pun.

Masjid yang cukup megah yang dibangun oleh Jemaat Ahmadiyah di kota Berlin diberi nama masjid Khadijah. Diberi nama Khadijah karena dana pembangunan masjid ini dikumpulkan oleh kaum wanita Ahmadiyah di negara Jerman. Arsitek yang merancang dan mendisain pembangunan masjid Khadijah ini juga adalah seorang wanita Ahmadiyah di Jerman. Kenyataan ini menggambarkan bahwa betapa kaum wanita Ahmadiyah di Jerman juga sangat gigih dalam melakukan kegiatan Dakwah Islam.


Di negara-negara Eropa lainnya, dakwah Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah tidak kalah pesatnya. Di Prancis misalnya, pada tahun 2009 yang lalu Jemaat Ahmadiyah juga meresmikan sebuah masjid kira-kira 20 KM di sebelah utara kota Paris, yaitu di Saint Prix. Negara yang sangat ketat memberlakukan aturan-aturan agama terlebih yang ber "bau" Islam ini semula sangat pelit memberikan izin untuk berdirinya sebuah masjid Islam. Akan tetapi belakangan Jemaat Ahmadiyah berhasil meyakinkan pemerintahan Prancis bahwa Islam yang diamalkan dan didakwahkan oleh Jemaat Ahmadiyah adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw yaitu agama yang rahmatan lil alamin, alias agama pemberi rahmat dan kasih sayang kepada semesta alam dan seisinya.


Di Eropa Utara, yaitu di daratan Skandinavia seperti di Denmark, Swedia dan Norwegia, Jemaat Ahmadiyah juga mengembangkan dakwah Islam dengan sangat gigih. Masyarakat Eropa Utara yang terkenal sangat tinggi ego dan sifat individualisnya tidak menjadi hambatan bagi Ahmadiyah untuk terus mengembangkan dakwah dan menyebarkan Tauhid Islam Laa ilaaha illallah Muhammadarrosuulullah di wilayah itu. Berbagai kegiatan dakwah terus dirancang, dan pendekatan dengan masyarakat setempat pun terus menerus dilakukan sehingga mereka tidak alergi terhadap Islam. Hasilnya, setiap hari masjid-masjid yang didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah di ketiga negara di Skandinavia ini setiap hari dikunjungi oleh masyarakat setempat yang ingin mengetahui ajaran Islam yang sebenarnya. [dna/kemang]

Sumber:islamireligius.blogspot.com

Template by:
Free Blog Templates